PENDAHULUAN

Latar Belakang

Hati merupakan organ tubuh yang paling besar dan berat pula tugasnya. Setiap saat hati harus menyaring racun-racun yang masuk ke tubuh melalui konsumsi makanan, zat yang dihirup atau diserap permukaan kulit. Selain melakukan detoksifikasi, hati juga berfungsi membentuk faktor pembekuan darah, menyediakan enzim untuk kebutuhan metabolisme, dan untuk fungsi hormonal. Di dalam hati terjadi proses-proses penting bagi kehidupan manusia yaitu proses penyimpanan energi, pembentukan protein dan asam empedu, pengaturan metabolisme kolesterol, dan penetralan racun atau obat yang masuk dalam tubuh.

Hati harus dipelihara dengan baik agar racun tidak  menumpuk di dalam tubuh, dapat tubuh bekerja dengan optimal. Dalam menjaga kesehatan hati, yang penting dilakukan selain mencegah terjadinya hepatitis adalah mencegah perlemakan hati atau fatty liver (Syam 2007). Seiring dengan meningkatnya taraf kehidupan masyarakat dan perubahan struktur makanan, mutu badan manusia terus ditingkatkan. Akan tetapi bersamaan dengan itu, perlemakan hati, suatu penyakit yang berkaitan erat dengan makan dan minum juga “menghantui” semakin banyak orang, ditambah kelompok yang mengidap penyakit perlemakan hati sudah tidak terbatas pada orang dewasa. Dalam suatu survei belum lama berselang, lebih-lebih di kota besar Tiongkok, perlemakan hati telah menjadi salah satu penyakit yang penting di kalangan kanak-kanak (Zhang 2010).

Penyakit hepar tergolong sebagai salah satu penyakit yang merupakan problem nasional di Indonesia dan di negara-negara berkembang pada umumnya, bahkan merupakan permasalahan yang hangat di negara-negara maju. Berdasarkan laporan dari semua RSUP tipe A dan B di seluruh Indonesia, ternyata penyakit hepar menempati urutan ketiga setelah penyakit infeksi dan penyakit paru, bahkan penyakit hepar merupakan penyebab kematian yang tergolong tinggi (Yerizel,Oenzil, Endrinaldi 1998).

Perlemakan hati adalah sejenis penyakit hati, dan dapat disembuhkan jika dapat diobati tepat waktu. Oleh karena itu, diagnosa dan pengobatan dini adalah sangat penting bagi pencegahan perlemakan hati yang meradang dan perbaikan pasca rehabilitasi. Namun, survei menemukan banyak penderita kurang mengindahkan perlemakan hati. Beberapa orang dengan alasan sibuk pekerjaannya, menganggap sudahlah cukup dengan mengatur dengan baik makan dan minum sehari-hari, serta suplemen dapat menyembuhkan perlemakan hati, dan tidak mengobatinya tepat waktu. Pada kenyataannya, perlemakan hati kalau tidak dikontrol, akibatnya sangat serius, bahkan dapat berkembang menjadi radang hati berlemak, sirosis hepatis, yang akhirnya memicu kanker hati (Yerizel,Oenzil, Endrinaldi 1998).

prevalensi perlemakan hati paling tinggi di antara penyakit tidak menular lainnya seperti Diabetes, Hipertensi, Batu empedu, kelainan  jantung dan lain-lain. Kesulitan yang di hadapi adalah timbulnya penyakit ini tidak di sadari oleh penderita. Hal yang ditakutkan apabila terjadi komplikasi yang dapat berlanjut menjadi sirosis dan kegagalan fungsi hati. Beberapa penelitian menemukan faktor risiko yang paling dominan terhadap kejadian perlemakan hati adalah kegemukan. Berbagai studi melaporkan kegemukan merupakan common risk faktor bagi penyakit kronis lainnya dan risiko penyakit kronis meningkat pada penderita kegemukan (Machmud 2000).

Upaya-upaya dalam penanggulangan dan pencegahan perlemakan hati diharapkan akan berdampak pada penurunan prevalensi penyakit kronis lainnya. Pada hakekatnya masalah kegemukan merupakan masalah perilaku dan memang perilaku merupakan pengaruh yang paling besar dalam mempengaruhi kesehatan (Machmud 2000). Mengingat besarnya pengaruh negatif dari perlemakan hati, maka dirasa perlu untuk dipelajari lebih mendalam mengenai penyakit hati yaitu perlemakan hati.

Tujuan

Pembuatan makalah ini bertujuan untuk mengetahui pengertian perlemakan hati, patogenesis perlemakan hati, penyebab, gejala dan tanda, pencegahan, diet serta penanganan penyakit perlemakan hati pada manusia

Kegunaan

Makalah perlemakan hati ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dan manfaat bagi berbagai pihak antara lain mahasiswa dan masyarakat umum terutama mengenai masalah perlemakan hati.

PEMBAHASAN

Definisi

Perlemakan hati adalah penumpukan lemak yang berlebihan dalam sel hati. Batasan penumpukan lemak adalah jika jumlah lemak melebihi 5% dari total berat hati normal atau jika lebih dari 30% sel hati dalam lobulus hati terdapat penumpukan lemak (WU dan Jau-Shin 2001) Perlemakan hati bervariasi mulai dari perlemakan hati saja (steatosis) dan perlemakan hati dengan inflamasi (steatohepatitis) (Patel dan Tushar 2001). Banyak orang tidak menyadari timbulnya perlemakan hati. Hal ini dibuktikan dari hasil pengumpulan survei pada 975 orang di Kota Depok menunjukkan prevalensi perlemakan hati paling tinggi di antara penyakit tidak menular lainnya. (Balitbangkes 2001). Prevalensi ini lebih tinggi bila dibandingkan dengan negara lain, seperti Amerika, Canada, Italia maupun Jepang.

Hal yang ditakutkan dari perlemakan hati adalah bila terjadi komplikasi yang berlanjut menjadi sirosis dan kegagalan fungsi hati (Patel dan Tushar 2001). Hampir sebagian besar hasil penelitian di luar negeri mendapatkan penyebab perlemakan hati tersebut oleh karena alkohol, sedangkan di Indonesia alkohol bukan sesuatu hal yang umum di konsumsi (Lesmana dan A.L 1999), sehingga dengan mengetahui faktor-faktor risiko perlemakan hati akan memudahkan dalam usaha menurunkan prevalensi perlemakan hati tersebut.

Faktor risiko yang memiliki hubungan dengan perlemakan hati adalah : umur, hiperlipidemia, diabetes melitus dan kegemukan, sedangkan jenis kelamin, pola konsumsi makan, aktivitas fisik dan olahraga tidak berhubungan dengan kejadian perlemakan hati. faktor yang paling dominan dan berisiko paling tinggi pada kejadian perlemakan hati adalah kegemukan (Patel dan Tushar 2001). Kontribusi faktor risiko menunjukkan, bila kegemukan dapat dihilangkan pada populasi tersebut maka perlemakan hati akan turun dari 30.6% menjadi 11.7% (interval kepercayaan 95% 10.3; 13.7) (P Angulo et al. 1999).

Patogenesis

NAFLD (non-alcoholic fatty liver disease) merupakan suatu kondisi medis dari penyakit hati yang mempunyai spectrum sangat luas, mulai dari perlemakan hati yang bersifat ringan (steatosis) tanpa adanya bukti kelainan biokimia atau histologi akibat dari peradangan hati ataupun fibrosis, sampai perlemakan hati yang disertai adanya nekroinflamasi dengan atau tanpa fibrosis (steatohepatitis) dapat juga berkembang menjadi fibrosis hati yang berat bahkan sirosis. Sedangkan NASH (Non alcoholic steato hepatitis) adalah merupakan bagian dari spektrum NAFLD (EKM 2009).

Mekanisme terjadinya NALFD tersebut berdasarkan teori “2 – Hits Hypothesis”. Hit pertama adalah terjadinya steatosis (akumulasi lemak intraseluler) yang dipengaruhi oleh banyak kondisi, sedangkan hit kedua adalah kerusakan sel hati yang disebabkan oleh adanya radikal bebas akibat peningkatan B-oksidasi pada mitokondria (EKM 2009).

Perlemakan hati disebabkan karena kelebihan jaringan lemak di hati. Secara teoritis dapat dijelaskan bahwa terdapat sel-sel lemak yang infiltrasi atau masuk ke dalam hati. Hal ini diduga disebabkan oleh adanya peningkatan pengiriman lemak atau asam lemak dari makanan ke hati, serta adanya gangguan pengeluaran jenis lemak trigliserida keluar dari sel hati. Gangguan pengeluaran lemak trigliserida tersebut akan menyebabkan sel-sel lemak menetap di hati.

Penyebab

Penyakit hepar dapat disebabkan oleh bermacam-macam hal, misalnya infeksi mikro organisme, gangguan metabolik, penyakit sistemik, alkoholisme, zat-zat kimia hepatotoksik dan lain-lain (Yerizel,Oenzil, Endrinaldi 1998).

Fatty liver, atau perlemakan hati terjadi karena dua tipe, yang pertama karena kelebihan asam lemak bebas di dalam darah, sehingga terjadi penumpukan triasilgliserol di dalam hepar. Hal ini salah satunya terjadi karena pemberian diet tinggi lemak. Tipe yang kedua adalah adanya penghambat metabolik dalam produksi lipoprotein plasma, yang erat kaitannya dengan hambatan produksi lipoprotein dalam darah. (Murray et.al 2003).

Kelebihan lemak jenis trigliserida yang melebihi 5% berat hati dapat terjadi pada peminum alkohol atau bukan pada peminum alkohol yang disebut Non alcoholic fatty liver Disease (NAFLD). Penyebab pada keadaan non alkoholik ini bisa mencakup banyak hal, seperti obesitas (kegemukan), penyakit kencing manis ( DM tipe II), obat-obatan, kekurangan gizi dan diet rendah protein, dislipidemia (kelebihan lemak tubuh) , dan faktor lain yang berkaitan dengan infeksi bakteri/ virus. Keadaan ini dapat terjadi karena :(1) konsumsi alkohol yang berlebihan yang disebut dengan ASH (Alcoholic Steatohepatitis), atau (2) bukan karena alkohol yang disebut NASH (Nonalcoholic Steatohepatitis). Fatty liver yang berhubungan dengan penggunaan alkohol bisa terjadi dengan hanya meminum sebanyak 10oz (+ 300 ml) alkohol perminggu. Secara umum peningkatan kejadian perlemakan hati disebabkan karena adanya gangguan metabolisme yang ditandai dengan adanya: kegemukan (obesitas), resisteninsulin, hiperinsulinemia, diabetes, hipertrigliserida, dan hipertensi. Selain itu, dapat pula disebabkan oleh Alcohol, Obat-obatan,  Gangguan maupun perubahan hormonal misalnya kehamilan, Metabolic syndrome, Penurunan berat badan yang drastis dan kekurangan gizi, Gaya hidup modern misalnya banyak makan kalori tinggi yang disertai dengan aktivitas olahraga yang minim.

NAFLD (non-alcoholic fatty liver disease) merupakan suatu kondisi medis dari penyakit hati yang mempunyai spectrum sangat luas, mulai dari perlemakan hati yang bersifat ringan (steatosis) tanpa adanya bukti kelainan biokimia atau histologi akibat dari peradangan hati ataupun fibrosis, sampai perlemakan hati yang disertai adanya nekroinflamasi dengan atau tanpa fibrosis (steatohepatitis) dapat juga berkembang menjadi fibrosis hati yang berat bahkan sirosis. Sedangkan NASH (Non alcoholic steato hepatitis) adalah merupakan bagian dari spektrum NAFLD (EKM 2009).

Mekanisme terjadinya NALFD tersebut berdasarkan teori “2 – Hits Hypothesis”. Hit pertama adalah terjadinya steatosis (akumulasi lemak intraseluler) yang dipengaruhi oleh banyak kondisi, sedangkan hit kedua adalah kerusakan sel hati yang disebabkan oleh adanya radikal bebas akibat peningkatan B-oksidasi pada mitokondria (EKM 2009).

Gejala dan Tanda

Sebagain besar pasien dengan perlemakan hati tidak ada tanda atau gejala kelainan hati yang menonjol, namun beberapa pasien melaporkan adanya rasa kelelahan (fatigue) atau malaise dan adanya perasaan penuh atau tidak nyaman pada perut kuadran kanan atas. Pada pemeriksaan fisik, sebagian besar hanya diketemukan adanya hepatomegali. Sering diketemukan peningkatan ringan sampai sedang dari AST, ALT atau keduanya. Pencitraan hati bisa digunakan untuk diagnosis, evaluasi secara visual jaringan hati (EKM 2009).

Penatalaksanaan

Sampai saat ini belum ada pengobatan NALFD yang baku, namun dengan diketahuinya patogenesis dan beberapa kondisi yang meningkatkan terjadinya perlemakan hati maka pendekatan multikondisi dilakukan untuk penatalaksaan perlemakan hati. Manajemen Berat Badan, Perbaikan Resistensi Insulin, Penurunan hiperlipidemia, Pemberian obat-obat hepatoprotektor (betaine, vitamin E, UDCA, lechitine, B-carotene, dan selenium). Betaine (trimethylglycine) merupakan asam amino hasil metabolisme choline, yang berguna dalam proses transmetilasi proses fisiologis di dalam tubuh manusia, dan mempunyai potensi sebagai: a. Lipotrofik, Efek lipotrofik ini disebabkan adanya kemampuan donor metil (CH3) dari betaine dengan bantuan enzim Betaine homocystein methyl transferase (BHMT) yang akan merubah homosistein menjadi methionine, dan selanjutnya menjadi SAM-e, yang merupakan donor metil untuk berbagai proses dalam tubuh, misalnya: sintesa protein, fosfolipid, hormon, DNA, dsb. Konsumsi betaine akan meningkatkan proses sekresi VLDL dengan cara metilasi fosfatidiletanolamin menjadi fosfatidilkolin yang merupakan komponen pembentuk apoprotein yang berikatan dengan trigiserida membentuk VLDL, sehingga betaine mempunyai potensi sebagai lipotrofik yang dapat digunakan untuk mencegah dan menurunkan akumulasi lemak dalam sel hati. b. osmolit, sebagai osmolit betaine berfungsi mengatur kadar air dalam sel sehingga fungsi sel optimal, melindungi sel terhadap stresor dari luar (stres osmotik, misalnya: kadar air yang rendah, kadar garam yang tinggi, temperatur yang ekstrem, dsb). Betaine juga mempunyai potensi untuk melindungi “denaturasi protein” dan sering disebut sebagai bahan kimia pengawal (chemical chaperone) (EKM 2009).

Pencegahan

Perlemakan hati merupakan penyakit dengan penyebab yang multi faktorial, sehingga semua faktor risiko perlu di pertimbangkan dalam upaya pencegahan baik primer maupun sekunder. Faktor risiko tersebut ada yang dapat di modifikasi, seperti hiper lipidemia, obesitas, diabetes melitus, diet lemak tinggi, aktifitas dan olahraga. Ada juga faktor risiko yang tidak bisa di modifikasi, seperti : usia, jenis kelamin (Machmud 2000).

Dari langkah-langkah yang dapat di modifikasi tersebut kemudian di lihat faktor yang paling memberikan kontribusi terbesar dalam meningkatnya prevalensi perlemakan hati adalah kegemukan.  Dengan melakukan kontrol terhadap kegemukan maka kita juga telah melakukan kontrol terhadap faktor risiko lainnya. Penanganan kegemukan artinya kita juga melakukan penanganan terhadap perbaikan pola diet, memperbaiki gaya hidup serta aktivitas olahraga, dampaknya tentu akan memperbaiki kadar lipid dalam darah (Machmud 2000).

Upaya-upaya dalam penanggulangan dan pencegahan perlemakan hati diharapkan juga akan berdampak pada penurunan prevalensi penyakit kronis lainya. Dalam usaha mencegah kegemukan maka hal yang dilakukan adalah dengan perbaikan pola konsumsi pangan yang berimbang (Muchtadi dan Deddy 1996)

Pada hakekatnya masalah kegemukan merupakan masalah perilaku. Dan memang perilaku merupakan pengaruh yang paling besar dalam mempengaruhi kesehatan. Dengan demikian, upaya untuk mengoreksi masalah gizi tersebut dilakukan dengan pendekatan pemberian informasi tentang perilaku gizi yang baik dan benar.

Departemen Kesehatan RI telah menyusun pedoman umum gizi seimbang dalam buku Panduan 13 Pesan Dasar Gizi Seimbang. Ada 13 pesan dasar gizi seimbang tersebut dapat digunakan untuk memperbaiki pola konsumsi pangan masyarakat. Langkah-langkah dalam panduan tersebut dapat digunakan untuk penanganan terhadap kegemukan. Isinya adalah sebagai berikut (Kodyat dan A Benny 1996) :

  1. Makanlah aneka ragam makanan.

Makan makanan yang beraneka ragam sangat bermanfaat bagi kesehatan. Sebab kekurangan atau kelangkaan zat gizi tertentu, pada satu jenis makanan akan di lengkapi oleh zat gizi serupa dari makanan lain. Jadi, masing-masing makanan dalam susunan aneka ragam menu seimbang akan menjamin terpenuhinya kecukupan sumber zat tenaga, zat pembangun dan zat pengatur bagi kebutuhan seseorang. Keaneka ragaman makanan dalam hidangan sehari-hari yang ideal dikonsumsi adalah jika setiap kali makan siang dan malam, hidangan tersebut terdiri dari empat kelompok makanan (makanan pokok, lauk pauk, sayuran dan buah).

  1. Makanlah makanan untuk memenuhi kecukupan energi.

Konsumsi energi yang melebihi kecukupan dapat mengakibatkan kenaikan berat badan. Energi yang berlebih di simpan sebagai cadangan dalam tubuh berbentuk lemak. Bila keadaan tersebut berlanjut maka akan menimbulkan kegemukan, yang akan berdampak pada timbulnya berbagai  penyakit tidak menular seperti jantung, diabetes, perlemakan hati dan sebagainya.

Untuk mengetahui jumlah kecukupan energi, pertama ditentukan berat badan yang di miliki seseorang termasuk kategori apa berat badannya, dengan cara menghitung; berat badan yang dimiliki di bagi dengan kuadrat tinggi badan. Kriteria index masa tubuh:

a.  Kurus,  bila nilai IMT <18.5

b.  Normal, bila nilai IMT 18.5 – 25.0

c.  Gemuk, bila nilai IMT >25.0

Bila telah diketahui kategorinya kemudian di hitung kebutuhan kalori yang paling mudah dengan pegangan kasar adalah untuk orang yang berat badan kurus 2300 – 2500 kalori, berat badan normal 1700 – 2100 kalori dan gemuk 1300 – 1500 kalori. Besarnya kalori ini disesuaikan dengan aktifitas yang dilakukan jika melakukan kerja lebih berat di ambil nilai kalori yang terbesar.

  1. Makanlah makanan sumber karbohidrat, setengah dari kebutuhan energi.

Terdapat dua kelompok karbohidrat yaitu karbohidrat kompleks dan karbohidrat sederhana. Karbohidrat kompleks adalah padi-padian, umbi-umbian dan makanan lainnya seperti tepung, sagu dan pisang. Makanan tersebut mengandung zat gizi selain karbohidrat. Proses pencernaan dan penyerapan berlangsung lebih lama dari karbohidrat sederhana. Makanan ini akan memberikan rasa kenyang tidak cepat lapar. Sedangkan gula, sirup, selai merupakan karbohidrat sederhana, tidak mengandung zat gizi lainnya. Proses dalam tubuh cepat dan menimbulkan rasa lapar yang lebih cepat. Di anjurkan agar membatasi untuk konsumsi karbohidrat sederhana ini hanya 3–4 sendok makan sehari, dengan 3-4 sendok makan gula pasir ini akan memberikan tambahan kalori sebesar 100 kalori, sehingga pemakaian gula yang berlebihan dapat menambah kalori dan berdampak kepada kegemukan. Dan membatasi makanan karbohidrat komplek jangan lebih dari total makanan yang di konsumsi. Bila lebih dari setengahnya maka timbul kondisi kekenyangan, sehingga akan mengurangi konsumsi lauk-pauk sayuran dan buah-buahan. Contoh, bila kebutuhan orang dengan berat badan normal adalah 2000 kalori dalam sehari maka bahan penukar untuk karbohidrat dapat tercukupi melalui 2 iris roti pada pagi hari, 1½ gelas nasi pada siang hari dan 1½ gelas pada malam hari. Jangan melebihi porsi tersebut.

  1. Batasi konsumsi lemak dan minyak sampai seperempat dari kecukupan energi.

Makanan yang ada, jangan terlampau banyak di goreng. Adapun komposisi yang di anjurkan dua bagian makanan yang mengandung sumber lemak nabati dan satu bagian di konsumsi sumber lemak hewani. Tidak mengkonsumsi telur, daging lebih dari tiga kali dalam seminggu. Contoh, bila kebutuhan kalori seseorang dengan berat badan normal adalah 2000 kalori dalam satu hari, maka konsumsi lemak yang di makan 25% dari 2000 kalori yaitu sekitar 500 kalori. Jumlah kalori yang berasal dari lemak ini bisa didapatkan dari 1 potong sedang ikan segar / daging / ayam dikombinasikan dengan 2 potong sedang tempe / tahu, minyak ½ sendok makan dalam dua kali makan perhari. Untuk bahan makanan penukar yang lainnya dapat di lihat pada buku bahan penukar makanan.

  1. Gunakan garam beryodium.

Gunakanlah garam yang mengandung yodium yang terdapat pada lebel bungkus garam.

  1. Makanlah sumber energi zat besi.

Anemia gizi besi masih banyak di derita oleh penduduk Indonesia terutama pada wanita hamil, wanita menyusui, anak balita, anak usia sekolah, buruh dan tenaga kerja berpenghasilan rendah. Sumber utama zat besi adalah bahan pangan hewani, kacang-kacangan dan sayuran berwarna hijau tua.

  1. Berikan ASI saja kepada bayi sampai berumur 4 bulan.

Air Susu Ibu adalah yang terbaik untuk bayi. Hindari pemberian makanan tambahan pada bayi sebelum usia empat bulan. Ini juga akan mencegah kemungkinan risiko timbulnya kegemukan pada usia dewasa. Penelitian menunjukkan bayi yang tidak mendapatkan ASI pada waktu bayi mempunyai risiko lebih besar untuk menderita kegemukan di kemudian hari.

  1. Biasakanlah makan pagi.

Makan pagi atau sarapan sangat bermanfaat bagi semua orang. Manfaatnya seperti memelihara ketahanan fisik dan daya tahan tubuh, meningkatkan konsentrasi.

  1. Minumlah air bersih, aman yang cukup jumlahnya.

Fungsi air adalah melancarkan transportasi gizi dalam tubuh, mengatur keseimbangan cairan, mengatur suhu, mengeluarkan sisa metabolisme. Untuk menjalankan fungsi tersebut diperlukan minimal dua liter atau delapan gelas sehari.

  1. Lakukanlah kegiatan fisik dan olahraga secara teratur.

Kegiatan fisik sangat bermanfaat bagi setiap orang, karena dapat meningkatkan kebugaran, mencegah kelebihan berat badan, meningkatkan fungsi jantung dan otot serta memperlambat proses penuaan.

  1. Hindarilah minuman beralkohol.

Kerugian bila seseorang mengkonsumsi alkohol adalah terhambat proses zat gizi, penyakit gangguan hati, kerusakan saraf dan otak.

  1. Makanlah makanan yang aman bagi kesehatan.

Makan selain harus bergizi juga harus aman bagi kesehatan. Makanan yang aman adalah makanan yang bebas kuman dan bahan kimia berbahaya, telah di olah dengan cara yang benar sehingga fisik dan zat gizinya tidak rusak.

  1. Bacalah label pada makanan yang di kemas.

Pada makanan yang di kemas terdapat label keterangan tentang isi, jenis, susunan zat gizi serta tanggal kadaluarsanya. Keterangan ini sangat membantu konsumen dalam memilih dan menggunakan makanan tersebut.

Upaya lainnya yang dapat dilakukan sebagai pencegahan perlemakan hati sama dengan upaya pencegahan gangguan lemak dalam darah yaitu dapat dilakukan melalui penyuluhan tentang gaya hidup sehat, meliputi :

a)    Pola makan sehari-hari yang sehat dan seimbang dengan meningkatkan konsumsi sayuran dan buah sebagai sumber serat. Dan membatasi konsumsi makanan tinggi lemak dan karbohidrat sederhana.

b)    Kegiatan jasmani yang cukup sesuai umur dan kemampuan. Adapun frekuensi yang disarankan dalam melakukan olahraga adalah minimal tiga kali seminggu dan maksimal lima kali seminggu. Untuk mengetahui Intensitas dari latihan yang dilakukan denyut nadi sewaktu latihan dapat dijadikan patokan. Besarnya denyut nadi sewaktu latihan ini harus sesuai dengan denyut nadi dalam zona latihan menurut KH Cooper.

c)     Mempertahankan berat badan normal, dengan batasan melalui index masa tubuh.

d)     Tidak merokok.

Penanganan

Perlemakan pada hati umumnya tidak menampakkan gejala. Dokter dpat memperkirakan adanya perlemakan hati melalui tes darah atau jika tampak adanya pembesaran hati. Pada pemeriksaan laboratorium misalnya menunjukkan kelainan fungsi hati (SG07 dan SGPT). Untuk memastikannya mungkin dokter akan menyarankan pemeriksaan darah lebih lanjut, ultrasound, CT-scan, atau MRI. Untuk makin memastikan apakah itu NASH, harus dilakukan pengambilan jaringan hati melalui biopsy (Anonim 2007).

Pola hidup sehat dapat menjadi suatu cara dalam mencegah atau menangani penyakit perlemakan hati. Pola makan yang digunakan sehari-hari harus diperhatikan dengan labih seksama. Pencegahan dan penanganan penderita fatty liver dapat dilakukan dengan menghindari konsumsi makanan hewani terutama yang berlemak, menghindari gorengan dan makanan proses, mengurangi konsumsi karbohidrat yang sudah direfined misalnya gula putih, roti putih, nasi putih, mie, kue-kue, biskuit, pudding dll, menghindari produk susu seperti susu sapi, cheese, cream atau butter, menghindari semua margarine dan

sejenisnya, menghindari semua makanan dan minuman manis-manis,  menghindari pemanis buatan, mem Perbanyak makan buah-buahan dan sayuran mentah, dan dianjurkan untuk Minum paling sedikit 2 liter air sehari. Menurut Prof. Zhang (2010), penanganan apabila sudah terkena perlemakan hati adalah dengan : Pertama, perlu mencari penyebab penyakit dan mengambil langkah yang bersasaran. Pengarak dianjurkan menghentikan kebiasaan minum arak. Penderita kencing manis yang juga mengidap perlemakan hati harus aktif dan efektif mengontrol gula darah. Penderita perlemakan hati yang malagizi selayaknya menambah penyerapan gizi, khususnya penyerapan protein dan vitamin. Singkat kata, menghilangkan patogeni terlebih dahulu baru dapat mengobati perlemakan hati.

Kedua, harus mengatur dengan baik struktur makan dan minum, memprakarsai konsumsi makanan yang tinggi protein, tinggi vitamin dan rendah gula dan lemak. Profesor Zhang (2010) menunjukkan, bagi orang gemuk yang menderita perlemakan hati harus dengan layak menambah rutinitas olahraga dalam rangka merangsang pengausan lemak badan. Profesor Zhang (2010) khusus memperingatkan orang setengah baya dan lanjut usia. Dikatakannya,” Ketika mengadakan latihan jasmani, perlu memperhatikan rutinitas, cara dan waktu kesinambungannya. Setiap hari berolahraga dua kali selama setengah jam, sampai keluar keringat sedikit. Jika dapat mempertahankan tiga hingga lima kali sepekan. Cara yang demikian dapat mencegah timbulnya perlemakan hati.”

Ketiga, Profesor Zhang dengan khusus memperingatkan para penderita untuk tidak sembarangan mengkonsumsi suplemen, karena dapat menambah beban hati jika mengkonsumsi secara berlebih.

Diet

Diet khusus merupakan salah satu cara untuk mencegah dan mengobati perlemakan hati. Studi yang dilakukan Dr. Masterton sebagaimana dimuat journal Alimentary pharmacology & therapeutics 2009, mengungkapkan penggunaan Omega 3 menjanjikan hasil yang cukup baik pada keadaan perlemakan hati yang bukan disebabkan karena minuman beralkohol (anonim 2010).

Studi baru menemukan bahwa mengalihkan konsumsi pada makanan yang rendah indeks glikemik mencegah penyakit fatal. Diet tinggi karbohidrat yang cepat dibakar dalam tubuh menyebabkan penyakit perlemakan hati, yang mengarah ke kanker hati dan kematian. Pada manusia, contoh makanan indeks glikemik tinggi, yang meningkatkan kadar gula darah secara cepat, termasuk roti tawar, nasi putih, sereal yang kebanyakan untuk makan pagi dan gula konsentrat. Sayuran, buah-buahan, kacang, dan biji yang tidak diproses adalah contoh makanan indeks glikemik rendah, yang meningkatkan kadar darah secara lambat. Pimpinan penelitian Dr. David Ludwig, Direktur the Optimal Weight for Life Program di Children’s Hospital Boston mengemukakan, eksperimen mereka menghasilkan argumen  yang sangat kuat bahwa diet makanan indeks glikemik tinggi menyebabkan perlemakan hati pada manusia dan makanan indeks glikemik rendah mencegahnya (Handri 2007).

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Perlemakan hati adalah penumpukan lemak yang berlebihan dalam sel hati. Batasan penumpukan lemak adalah jika jumlah lemak melebihi 5% dari total berat hati normal. Perlemakan hati disebabkan karena kelebihan jaringan lemak di hati. Keadaan ini dapat terjadi karena :(1) konsumsi alkohol yang berlebihan yang disebut dengan ASH (Alcoholic Steatohepatitis), atau (2) bukan karena alkohol yang disebut NASH (Nonalcoholic Steatohepatitis). Secara umum, pada perlemakan hati tidak ada tanda atau gejala kelainan hati yang menonjol. pendekatan multikondisi dilakukan untuk penatalaksaan perlemakan hati, dengan cara: Manajemen Berat Badan, Perbaikan Resistensi Insulin, Penurunan hiperlipidemia, Pemberian obat-obat hepatoprotektor (betaine, vitamin E, UDCA, lechitine, B-carotene, dan selenium). Pencegahan terjadinya perlemakan hati dapat dilakukan dengan menerapkan pola hidup sehat. Penanganan apabila sudah terkena perlemakan hati adalah dengan mencari penyebab penyakit dan mengambil langkah yang bersasaran. Konsumsi omega 3 dan diet makanan dengan indeks glimekik rendah dapat mencegah dan mengobati perlemakan hati.

Saran

Perlemakan hati merupakan penyakit yang tidak disadari dan tanpa gejala. Penyakit ini secara keseluruhan disebabkan oleh gaya hidup yang tidak sehat. Membiasakan diri untuk hidup sehat merupakan upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya perlemakan hati dan mencegah efek negatif terjadinya perlemakan hati. Pola hidup sehat yang dapat dilakukan sejak dini adalah dengan membatasi konsumsi lemak agar tidak berlebih dan melakukan olahraga rutin setiap hari.

DAFTAR PUSTAKA

Angulo P; Keach JC ; Batts KP; Lindor KD, 1999. Independent Predictors of liver

fibrosis in patients with nonalcoholic steatohepatitis. Hepatology 1999 Dec; 30(6): 1356-62.

Anonim. 2007. Lemak membuat hati meradang. http://cybermed.cbn.net.id/

cbprtl/cybermed/detail.aspx?x=Health+News&y=cybermed%7C0%7C0%7C5%7C4200. 17 September 2010.

Anonim. 2010. http://clubsehat.com/index2.php?option=com_content&do_pdf=

1&id=87. 17 September 2010.

Anonym. 2010. Omega 3 untuk perlemakan hati.http://www.inimedanbung.com/

node/6089. 17 September 2010.

Syam Ari Fahrial. 2007. Lemak Membuat Hati Meradang. http://cybermed.cbn.

net.id/cbprtl/cybermed/detail.aspx?x=Health+News&y=cybermed%7C0%

7C0%7C5%7C4200. 17 September 2010.

Balitbangkes, 2001. Laporan penelitian Studi Operasional Promosi Gaya Hidup

Sehat Dalam Pengendalian Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular Utama

Secara Terintergrasi Berbasis Masyarakat. Badan Penelitian dan

Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan

Sosial RI.

EKM. 2009. Non-Alcoholic Fatty Liver Disease (NAFLD). http://www.kalbe.co.

id/dod_detail.php?detail=88. 17 September 2010.

Handri. 2007. Diet Dapat Mengekang Penyakit Perlemakan Hati. http://drhandri.wordpress.com/2007/11/20/diet-dapat-mengekang-penyakit-perlemakan-hati/. 17 September 2010.

Kodyat, Benny A, 1996. Panduan 13 Pesan Dasar Gizi Seimbang. Departemen

Kesehatan RI Jakarta. 80 hlm

Lesmana, L.A,1999. Perlemakan Hepatitis Non-Alkoholik Dalam: Aru W Sudoyo

et all (eds) 1999 Naskah Lengkap Pertemuan Ilmiah Tahunan Ilmu

Penyakit Dalam 1999 Pusat Informasi dan Penerbitan Bagian Ilmu

Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia: 123 – 125.

Muchtadi, Deddy, 1996. Pencegahan Gizi Lebih dan Penyakit Kronis Melalui

Perbaikan Pola Konsumsi Pangan Dalam Pangan dan Gizi Ilmu

Tekhnologi Industri dan Perdagangan Internasional, Kumpulan Orasi

Ilmiah Guru Besar Tekhnologi Pangan dan Gizi 1994 – 2000. Jurusan

Tekhnologi Pangan dan Gizi Fakultas Tekhnologi Pertanian Institut

Pertanian Bogor. Sagung Seto.

Murray, Robert K. Granner, Daryl K. Mayes, Peter A. Rodwell, Victor W. 2003.

Harper’s Illustrated Biochemistry, Twenty-Sixth Edition. New York: Mc.

Graw Hill.

Patel, Tushar, 2001. Fatty Liver, eMedicine journal, August 31, vol 2, number 8.

Machmud Rizanda. 2000. Pencegahan Penyakit Dan Promosi Kesehatan Untuk

Penyakit Perlemakan Hati Melalui Penanganan Kegemukan. Majalah

Kedokteran Andalas No.2.  Vol.24. Juli – Desember 2000.

WU, Jau-Shin. 2001.Fatty Liver, Old Doc’home- Dr.Wu’s Series.

Yerizel Eti, Oenzil Fadil, Endrinaldi. 1998. Efek Hepatoprotector Flavonoid

Terhadap Kerusakan Hepar Tikus. Majalah Kedokteran Andalas Vol.22.

No. 1.  Januari – Juni.

Zhang 2010. Pengontrolan Ilmiah Penyakit Perlemakan Hati.http://indonesian.

cri.cn/381/2009/06/28/1s98435.htm. 17 September 2010.